Ayo Nonton Ludruk, Budaya Indonesia yang Harus Tetap Hidup


Beberapa waktu  lalu saya Jambore Fotografi di Surabaya, dalam acara aitu ada kunjungan menyaksikan pagelaran ludruk Irama Budaya. awalnya saya agak kaget ketika melihat bahwa semua pemain ludruk itu adalah laki-laki, wuiiih merinding boss. ta it's ok, namanya juga kebudayaan. Ketika saya bertanya kepada salah seorang pemain ludruk tentang acara rutin mereka, dan dia mendeskripsikannya. Ludruk di irama budaya tampil seiap hari, walaupun penonton yang hadir hanya 3 orang, pagelaran ludruk tetap dijalankan. biaya masuknya hanya 5000 rupiah. yang membuat saya kagung, ketika hasil uang tiket hanya 20 ribu. mereka membagi rata kepada semua pemain. walaupun setiap orangnya hanya mendapatkan 2000 rupiah. tapi mereka menjalaninya dengan penuh keikhlasan dan semangat.

Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa timur Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, etc).


Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera", seorang jagoan Madura. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik. (Idn)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ayo Nonton Ludruk, Budaya Indonesia yang Harus Tetap Hidup"

Post a Comment

Like Fanpage Facebook